Anda Bermasalah dengan Asuransi? Begini Cara Penyelesaiannya

Anda Bermasalah dengan Asuransi? Begini Cara PenyelesaiannyaJakarta -Asuransi menjadi subsektor paling banyak mendapatkan pengaduan dalam semester I-2016. Tercatat sebanyak 28 kasus sudah diterima yang hampir keseluruhan berhubungan dengan penolakan klaim.

“Jadi kalau mereka ada masalah dengan asuransi, kan asuransi menolak klaim, dengan alasan yang mungkin dia tidak setuju, perusahaan nggak setuju, jadi mereka tidak sepakat dengan penolakan,” kata Ketua Badan Mediasi dan Arbitrase Asuransi Indonesia (BMAI) Frans Lamury, di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (11/8/2106).

Frans menjelaskan, proses penyelesaian sengketa asuransi sebenarnya cukup sederhana. Bila pemegang polis tidak menerima penolakan yang disampaikan oleh perusahaan asuransi, maka bisa mengajukan laporan ke BMAI.

BMAI kemudian akan mengirimkan surat ke perusahaan yang dilaporkan, untuk memberikan penjelasan secara lengkap. BMAI kemudian mempelajari kedua laporan.

“Kami menyurati asuransinya. Ini ada laporan dari nasabah anda, ceritanya begini-begini, tolong sampaikan cerita anda. Dengan demikian kami cover bothside. Jadi dengar tertanggung dan penanggung,” paparnya.

Ada tiga proses yang bisa dipilih, pertama adalah mediasi, kedua ajudikasi dan ketiga yaitu arbitrase. Dalam proses mediasi, kedua belah pihak akan dipertemukan. BMAI hanya memberikan pandangan secara umum berdasarkan regulasi yang ada.

“Jadi yang memutuskan itu mereka, asuransi misalnya menarik kembali terus mau bayar, atau nasabahnya paham sekarang alasannya, terus terima,” ujar Frans.

Seandainya belum menemukan titik temu, maka kedua belah pihak bisa melanjutkan kepada ajudikasi. Mekanismenya sedikit lebih formal karena akan berhadapan dengan majelis ajudikasi.

“Ajudikasi, itu arbitrase mini, cuma lebih singkat. Ada majelis ajudikasi yang memeriksa dan memutus putusan itu mengikat baik asuransi, kalau nasabah terima putusan. Biasanya diterima kalau diterima klaimnya,” terangnya.

Proses ajudikasi juga tidak diperkenankan kedua belah pihak untuk menggunakan kuasa hukum. Kecenderungan proses ini memakan waktu 2-3 bulan.

“Di ajudikasi meskipun sifatnya pengadilan, kami tidak boleh menggunakan lawyer. Jadi dia sendiri, argumentasi mereka berikan sendiri, karena jumlahnya kecil,” terangnya.

Sedangkan untuk arbitrase, menurut Frans, akan lebih rumit. Biasanya nilai klaim yang dipersengketakan lebih besar. Maka dari itu, BMAI juga memberlakukan ongkos, terutama bagi nilai klaim di atas Rp 750 juta untuk asuransi umum dan Rp 500 juta untuk asuransi jiwa.

“Minimal ongkosnya Rp 30 juta. Tabel ongkos disesuaikan dengan nominal yang disengketakan. Semakin besar, persentase semakin tinggi,” papar Frans.

Berdasarkan aturan yang berlaku, ongkos tersebut dikenakan kepada pihak yang diputuskan kalah. Masa sidang arbitrase adalah enam bulan, bila belum selesai maka perlu ada kesepakatan kedua belah pihak untuk dilanjutkan atau tidak.

“Menurut UU 6 bulan, kalau bisa lebih cepat, kalau belum selesai bisa lanjut lagi perpanjang,” imbuhnya.

(mkl/drk – detik)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s