Ini Lho Pentingnya Berbicara Menggunakan Kalimat-kalimat Positif pada Anak

Ini Lho Pentingnya Berbicara Menggunakan Kalimat-kalimat Positif pada AnakJakarta, Tanpa disadari orang tua sering memilih menggunakan kalimat negatif yang cenderung menakut-nakuti anak. Padahal kalimat positif jauh lebih bermanfaat.

Karena tidak suka anaknya berlari-lari terus, orang tua terkadang meneriakkan kata-kata bernada negatif yang cenderung menakut-nakuti anak. Misalnya saja dengan berteriak: Awas jatuh!

Di saat yang lain, saat anak susah makan, orang tua menakut-nakutinya dengan kalimat: kalau kamu tidak mau makan, nanti didatangi hantu.

Sering kali seseorang, termasuk orang tua, memilih menggunakan kata-kata negatif untuk membuat orang lain, dalam hal ini anaknya, menuruti perkataannya. Padahal kata-kata negatif justru memicu hal negatif yang turut tumbuh dalam dirinya.

“Sering mendapat ancaman akan membuat anak semakin ketakutan seperti, ‘awas jangan lari-lari, nanti jatuh,’ adalah warning yang terlalu negatif yang membuat anak menjadi takut dan nempel kepada ibunya,” ujar psikolog Ade Dian Komala, MPsi, dalam perbincangan dengan detikHealth beberapa waktu yang lalu.

Lebih baik, sambung Ade, orang tua memberikan saran kepada anak agar lari dengan lebih pelan. Sampaikan pula alasan kenapa saat itu anak harus lari dengan lebih pelan. Misalnya karena di area itu sedang banyak orang, sehingga bisa menabrak jika lari terlalu cepat. Atau mungkin karena lingkungannya becek dan licin, sehingga akan membuat siapapun yang berlari cepat-cepat lebih mudah tergelincir.

Suatu kali, anak mungkin melakukan kesalahan akibat tidak mendengarkan kata-kata orang tua. Contohnya anak menumpahkan air sehingga bajunya basah kuyup. Rasanya akan lebih puas jika berkata: makanya nurut kalau dibilang jangan lari-lari, nabrak ember kan, rasain deh kamu basah kuyup.

Sebelum marah sambil melontarkan serentetan omelan dan bahkan makian, cobalah menarik napas dulu. Apakah kesalahan yang dilakukan anak sangat fatal sehingga membuatnya harus diomeli panjang lebar, apalagi di depan teman-temannya. Hal itu akan membuatnya malu dan meruntuhkan rasa percaya dirinya. Bisa jadi dia akan selalu takut melakukan apapun lantaran trauma.

“Sebaiknya jangan terlalu banyak kata-kata negatif dan ancaman, karena akan menyebabkan tidak percaya diri dan ketakutan,” imbuh Ade.

Sebaliknya, kalimat positif akan bisa membuat anak lebih percaya diri. Bahwa benar, mereka pernah melakukan kesalahan, namun kalimat positif yang disampaikan orang tua akan membuatnya memiliki semangat positif untuk memperbaiki tindakannya.

(vit/vit – detik)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s