Banyak Cibiran datang ke Kafe Jamban di Semarang, ini Jawaban Pemilik

Semarang – Pemilik Kafe Jamban, Budi Laksono (52) ternyata sudah 15 tahun peduli dengan sanitasi di Indonesia. Ratusan ribu jamban sudah dibuatnya untuk membantu warga yang belum memiliki akses sanitasi.

Budi merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang dan Queensland University of Technology Australia. Tidak hanya itu, dia juga mendapatkan gelar doktor di Universitas Diponegoro Semarang.

“Saya sebenarnya di bidang HIV/AIDS,” kata Budi saat ditemui detikcom di Kafe Jamban, Jalan Untung Suropati Semarang, Kamis (30/6) sore.

Sejak 15 tahun lalu, Budi mulai melihat kondisi sanitasi Indonesia yang ternyata banyak warga belum memiliki jamban, sedangkan banyak kasus kematian cukup tinggi akibat dampak dari buang air sembarangan.

“Isu ini penting, 49 juta orang Indonesia belum punya jamban, sedangkan kasus kematian termasuk anak-anak sangat tinggi akibatnya seperti infeksi usus, tipus, atau diare,” terang Budi.

Berawal dari tesisnya berjudul “Katajaga (kampung total jamban keluarga) Balatrine” ia mulai meneliti dan beraksi membuatkan jamban bagi warga yang belum memilikinya. Dibantu istrinya, Dra Sri Peni Hernawati (49), kegiatan tersebut terus berkembang.

“Pertama itu tahun 2005 di Semarang daerah Bendosari, Ngelosari sampai dapat 13 desa kecil. Terus akhirnya kami dapat bantuan untuk membuat jamban,” terangnya.

Usahanya itu juga diapresiasi oleh Kodam IV Diponegoro dan diajak kerjasama untuk program jambanisasi. Pemerintah Kota Semarang juga turut membantu pendanaan jambanisasi tersebut. Hingga saat ini ada sekitar 173 ribu jamban yang dibuatnya bersama yayasan Wahana Bakti Sejahtera Semarang miliknya.

Relawan yang membantunya biasanya berasal dari mahasiswa yang diajarnya di Undip dan Universitas Negeri Semarang. Selain itu ada juga relawan dari mantan pemakai narkoba yang dibinanya. Sekedar diketahui, Budi juga memiliki “Rumah Aman” untuk menampung mantan pemakai narkoba dan korban kekerasan seksual yang keberadaannya dirahasiakan.

“Relawannya datang dan pergi, kadang sampai 25 orang. Kalau istri dan anak saya jadi relawan tetap. Kami bangun pertama tanpa dibiayai siapapun,” tandasnya.

Budi juga melakukan sosialisasi pentingnya jamban dengan berbagai cara termasuk melalui wisata jamban. Jadi pengunjung akan diajak ke lokasi pembuatan jamban dan memberikan pengertian kalau membuat jamban tidak sulit dan tidak mahal. Pesertanya bahkan dari luar negeri.

“Jadi bisa menginap di sini dan nantinya mereka tahu kalau dalam waktu 4 jam saja, keluarga sudah punya jamban. Material tidak sampai Rp 500 ribu. Tamunya ada dari Australia, ada juga Taiwan, mereka malah jadi menyumbang juga,” terangnya.

Sosialisasi yang baru-baru ini yaitu Kafe Jamban yang dibuka sejak sekitar 2 bulan lalu. Dengan cafe yang harus reservasi itu, Budi memberikan pemahaman tentang peran pengunjung untuk menyadarkan masyarakat tentang sanitasi, dan bonusnya akan ada atraksi menyantap kuliner melalui jamban jongkok di atas meja.

Sayangnya banyak yang belum mengetahui maksud dari Kafe Jamban tersebut sehingga banyak komentar miring dan menghujat Budi. Namun ia menanggapinya santai dan tetap melanjutnya apa yang dia yakini benar itu.

“Kita beri motivasi, ada 10 pemahaman. Kalau kita pahamkan maka akan tergerak punya jamban. Ilmu nomor 8 itu kalau punya jamban berarti mengikuti Sunnah Rasul, kalau tidak berarti menzolimi orang lain karena menyebabkan penyakit akibat bakteri feses,” tandas Budi.

“Saya Muslim, dan dalam konteks sanitasi, ada sunnahnya. Pertama hindari buang air di air mengalir karena menyebarkan kuman dan bakteri, kemudian jangan di pinggir jalan karena terkait dengan aurat, ketiga jangan di bawah pohon karena mengganggu orang, dulu orang banyak beristirahat di bawah pohon,” imbuhnya.

Usaha Budi membantu memperbaiki sanitasi di Indonesia yang selama ini tidak tersorot mulai terlihat justru karena kontroversi Kafe Jamban. Namun Budi mengaku tidak bermaksud mencari sensasi dengan Kafe tersebut.

“Masalah sanitasi ini seharusnya membuat Pemerintah malu. Karena ada orang Barat yang datang ke Indonesia jadi enggan menenggak minuman buatan kita karena melihat banyaknya warga yang tidak memiliki akses sanitasi. jadi sampai segitunya,” tandas ayah 4 anak itu.
(alg/dra – detik)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s