Ketika Anak Penasaran pada Berita Perkosaan, Bagaimana Menyikapinya?

Jakarta, Belakangan kasus-kasus pemerkosaan yang disertai tindakan sadis mewarnai pemberitaan media Tanah Air. Bukan tak mungkin, pemberitaan itu memunculkan rasa penasaran anak yang masih balita ataupun yang baru masuk sekolah dasar. Lalu bagaimana sebaiknya orang tua menyikapinya?

Menurut psikolog anak dan remaja dari RaQQi – Human Development & Learning Centre, Ratih Zulhaqqi, penjelasan tentang pemerkosaan kepada anak berbeda-beda, tergantung usianya. Sebab jika anak masih terlalu kecil, lalu mencetuskan pertanyaan, “Mama, perkosaan itu gimana sih?” lalu dijelaskan dengan detail tentu tidak cocok.

“Mungkin kalau untuk usia dini seperti itu dikasih tahu kalau pemerkosaan itu merebut hak seseorang,” kata Ratih kepada detikHealth.

Sementara itu menurut psikolog keluarga Anna Surti Ariani, MPsi, ketika anak menanyakan soal perkosaan bisa menjadi sarana untuk sekaligus mengajarkan pendidikan seksual sejak dini. Selain itu juga mengajarkan pada anak agar lebih mengenal tubuhnya.

“Juga mengetahui sentuhan orang kepada dia itu sentuhan sayang atau tidak. Lalu mereka juga sudah paham bagian-bagian mana yang dilarang sentuh misalnya bagian kelamin, pantat, bibir, dan bagian dada pada perempuan,” terang perempuan yang akrab disapa Nina ini.

Sebenarnya, kata Nina, pendidikan seks yang sederhana sudah dilakukan orang tua sejak anaknya masih bayi. Ini dilakukan ketika orang tua menyebut bagian tubuh anak ketika sedang membersihkan popoknya. “Misalnya ibu sambil bilang, ‘Mama bersihkan ya vagina atau penisnya’,” imbuhnya.

Pada batita dan balita, sebaiknya dibiasakan untuk mengganti baju di ruangan tertutup. Beri tahu pula pada si kecil, jika ada orang yang memegang bagian terlarang mereka, maka sebaiknya berteriak atau mencari bantuan orang dewasa lainnya. Upaya perlawanan bisa pula diajarkan pada anak, misalnya dengan menendang atau memukul alat vital orang yang berusaha memegang bagian intim tubuh mereka.

“Anak dan orang tua perlu pengetahuan agar anak perempuan tidak menjadi korban pencabulan dan anak laki-laki tidak jadi pelaku pemerkosaan. Sebenarnya bisa saja anak laki-laki yang jadi korban, tetapi persentasenya lebih sedikit,” ujar Nina.

(vit/ajg – detik)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s