Begini Turki Ottoman Sambut Ramadhan

suasana-buka-puasa-ramadhan-di-arab-saudi-_150617084356-215Perhatian pemerintah untuk menghidupkan Ramadhan setidaknya terlihat dari upaya yang dilakukan oleh Dinasti Turki Usmani.

Salim Ayduz dalam tulisannya “Ottoman Contributions to Science and Technology” menyebut jasa Dinasti Turki Usmani memberi kontribusi penting dalam perkembangan penentuan waktu dengan  lebih akurat terutama pada awal abad ke-16, seperti awal dan akhir  Ramadhan dan jadwal ismakiyah. Observatorium Istanbul dan tabel  astronomi berperan penting dalam memantau pergerakan benda-benda  angkasa termasuk memprediksi gerhana.

Di bagian Society and Popular Culture, Donald Quataert dalam bukunya  Ottoman Empire 1700-1922, menguraikan Ramadhan selalu menjadi bulan  istimewa di semua era kepemimpinan Islam, termasuk di masa Dinasti Turki  Usmani.

Di masa Dinasti Turki Usmani, terutama di Damaskus pada abad ke-18,  Gubernur Damaskus akan berkeliling wilayah untuk mengingatkan  pembayaran zakat dan pajak beberapa pekan sebelum Ramadhan.  Kehidupan masyarakat kota juga lebih semarak seusai //iftar//, atau berbuka puasa.

Pusat-pusat kegiatan masyarakat lazim dijadikan tempat berkumpul untuk  berbuka puasa bersama. Di pertengahan abad ke-19, raja juga memberi  subsidi dan bantuan makanan kepada masyarakat miskin di bulan ini.  Meriam sengaja ditembakkan pemerintah kota untuk memudahkan  mengetahui waktu memulai dan berbuka puasa selama Ramadhan.

Sejumlah hiburan rakyat juga digelar, seperti //karagoz// (wayang) dan  karnaval. Ramadhan dimanfaatkan juga sebagai bulan silaturahim  antarbudaya dan agama. Istana biasanya mengundang para tokoh agama  dan budaya untuk jamuan buka puasa bersama.

Penertiban tempat makan dan minum di siang hari juga ditertibkan. Polisi  dikerahkan pada siang dan malam guna menghalau adanya orang mabuk di  malam Ramadhan. Laki-laki dan perempuan juga dilarang berjalan hanya  berdua saat itu. Meski tidak diketahui apakah ada hukuman yang dijatuhkan  atau tidak, imam atau tokoh agama berperan memberi pengarahan.

Ulama juga terus diundang untuk membacakan Alquran setiap malam, baik di  istana maupun istana. Menara-menara masjid juga diterangi lampu-lampu  yang memberikan efek pendaran cahaya bagi wilayah sekitarnya.

Sekolah-sekolah juga diliburkan selama Ramadhan. Namun, ada saat para siswa dikoordinir sekolah untuk berkunjung ke desa-desa melakukan  kerja sosial atau berbagi makanan. Kantor-kantor pemerintah mengalami atur  ulang jadwal sehingga para pekerjanya tetap bisa memaksimalkan ibadah  saat Ramadhan.

Niki Gamm juga melansir ulasan para pelancong  Eropa yang sempat singgal  di wilayah kekuasaan Turki Usmani antara abad ke-17 hingga 19 dalam  tulisannya Ottoman Ramadan Through Foreigners’ Eyes. Evliya Celebi,  Edmondo de Amicis, dan Lady Dorina Neave sama-sama menyebut  Ramadhan di Istanbul sepi pada siang hari dan ramai di malam hari. Kios-kios  penjual makanan dan minuman juga tutup. Meski bukan Muslim, Celebi  mengungkapkan ia tak disuguhi makanan oleh siapapun saat pertama kali  tiba di Istambul di siang hari bulan Ramadhan.

Selepas azan Maghrib yang berkumandang dari menara-menara masjid,  warga dengan suka cita berbuka puasa dan mengajak siapa saja, termasuk  warga asing, untuk makan bersama. Istana, ungkap Celebi, biasanya  menyajikan sajian istimewa khas Ramadhan bagi tamu negara. Namun, de  Amicis dan Neave mengungkapkan makanan khas Ramadahan seperti sirup  dari estrak buah dan  bunga juga di sajikan masyarakat.

Masjid, jalan-jalan, dan rumah-rumah dibersihkan menjelang dan di akhir Ramadhan. Orang-orang tetap saling bertegur sapa dan ramah kepada para pelintas baik yang mereka kenal maupun orang asing.(republika)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s