Kenali, Gejala Kanker Ovarium yang Umumnya Muncul Saat Sudah Stadium Lanjut

ovariumJakarta, Gejala kanker ovarium atau kanker indung telur tidak khas dan sering menyerupai gejala penyakit lain. Apalagi, 60 persen kasus kanker ovarium ditemukan sudah berada di stadium lanjut.

Hal tersebut diungkapkan Prof Dr dr Andrijono, SpOG selaku ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI). Nah, ketika sudah mencapai stadium lanjut, ada beberapa keluhan yang bisa saja ditimbulkan.

“Keluhannya di antaranya begah, perut terasa sakit, kembung, dan seperti ada tekanan, sulit buang air besar, lalu sering buang air kecil. Jadi kalau sering buang air kecil jangan dianggap beser saja,” tutur Prof Andrijono di sela-sela konferensi Pers ‘OVACheck-Kenali Kanker Ovarium’ di Hotel Double Tree, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (8/5/2015).

Jika massa di perut sebesar 4-5 cm, belum teraba, dan belum menimbulkan gejala. Barulah ketika sel kanker menyebar ke dinding perut bagian lain yang menyebabkan ada cairan di perut. Sehingga, dikatakan Prof Andrijono, jarang kanker ovarium ditemukan saat stadium dini.

Selain perut yang membesar dan kembung, gejala lain kanker ovarium yang umum terjadi yakni kelelahan, adanya gangguan pencernaan, nyeri pada panggul, abdomen, punggung dan nyeri saat berhubungan intim. Kemudian, mudah kenyang dan selera makan berkurang.

Pada dasarnya, kanker ovarium adalah jenis kanker yang tumbuh di dalam ovarium. Setiap perempuan memiliki dua ovarium di kanan dan kiri rahim. Nah, indung telur inilah yang menghasilkan sel telur, dan hormon seperti estrogen, progesteron, dan testosteron.

“Tumor itu kan ada 2, jinak dan ganas dan yang ganas inilah yang disebut kanker. Asalnya dari sel normal yang berkembang jadi sel kanker dan penyebabnya bisa perubahan zat kimia, virus, atau sinar uv. Sel kanker berkembang dengan cepat karena sensornya terganggu,” kata Prof Andrijono.

dr Sedya Dwisangka M.Epid selaku Kepala Seksi Standarisasi Subdit Kanker Dirjen P2PL Kemenkes RI mengatakan, menurut data Riskesdas tahun 2007, kanker menjadi penyebab kematian nomor 7 di Indonesia dengan presentasi 5,7%. Sejak Januari hingga November 2014, pembiayaan BPJS untuk pengobatan kanker mencapai Rp 905,6 M, jumlah ini mencapai lebih dari 35% pembiayaan BPJS.

“Kanker ovarium menjadi penyebab kematian utama kanker ginekologi di AS. Kalau di Indonesia sendiri memang kasusnya tidak terlalu banyak dibandingkan kanker payudara dan serviks ya. Pada awalnya, kanker ovarium tidak memberi gejala, 2/3 kasus ditemukan pada stadium lanjut. Data bulan Januari sampai Desember 2014 pasien kanker ovarium tertinggi di usia 36-55 tahun dengan jumlah 57,66%,” kata pria yang akrab disapa dr Ongki ini. (detik)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s